Jumat, 23 November 2007
SELESAI SUDAH...
Kamis, 06 September 2007
KEINDAHAN, AKU MENCARIMU!
Puisi Nurani SoyomuktiKeindahan,
Aku mencarimu
Piala yang kuperebutkan dengan cara bertarung
Melawan kesia-siaan.
Kuraih dirimu saat kuterjaga saat kubermimpi
Kudapati kau kugapai kau kukejar kau
Wahai nuansa hidup yang melingkar dalam repetisi keinginan
Kueja kau dalam bait-bait,
Kususun kau bersama perlawanan mengenyahkan kebuntuan
Kunamai kau kuldesak
Karena katakata sesak pada bait terakhir yang terdesak.
Aku ingin memujamu dengan kata yang panjang,
tapi kau hanya menari di angan.
Oh, kubertemu kau dalam mimpi
Kuadukan padamu kenapa kau hanya
sering menyeruak dalam kerinduan pada Kekasih tercinta.
Kuadukan padamu ucapan Tuan Tardji bahwa
aku harus menemuimu hanya pada katakata
dan bukan derita dan bukan dogma dan angkara.
Pada hal kau sering menjumpaiku pada rindu
pada angkara
pada rasa
pada makna
Yang cukup mengerti dari mana asalnya.
Aku hanya ingin mengadu, wahai Keindahan!
Engkau jangan kejamkejam dan diam saat pengertianmu
diperkosa dengan bahasabahasa yang kau sendiri tak paham
biarkan dirimu tidak hanya datang pada proses manipulasi jiwa
biarkan dirimu tidak hanya tiba pada saat repetisi nuansa
perpisahan dan perjumpaan tanpa tetes air mata.
Jakarta, September 2007
Jumat, 31 Agustus 2007
TERMINAL KESEKIAN
Puisi Nurani Soyomukti
kemana larinya bus-bus itu…
seorang gadis manis di dalamnya yang berkeringat bahkan tidak
bisa menjawab.
kemarin seorang wanita tua mencari anaknya yang diculik orang dari
tapi masih belum akan terungkap rahasia tentang siapa yang pertama kali memaksa
orang-orang harus banyak mengeluarkan keringat
darah
dan air mata
hanya seorang sopir tua yang paling dapat mengenali air mata es apukat
ditatapnya pula banyak kendaraan beroda empat yang berkeringat.
waktu itu tahun 1998,
awal Mei yang membuat orang dengan bebasnya membuat kesimpulan
tentang suara keroncongan dalam perutnya pada pukul 11 siang.
kini memang terpaksa seorang pengembara mampir kembali.
untuk mendengarkan kata-kata yang wajar untuk memperebutkan penumpang
Senin, bulan Maret 2005, mentari panas masih memantul di kening mereka,
keringat mengalir seperti solar yang harganya telah naik
“Segera akan terungkap siapa pelaku sejarah sebenarnya” bisik salah seseorang di sebuah
warung yang ingin menikmati nasi pecel ibu tua
yang harganya masih murah—dan itu adalah satu-satunya kesempatan hidup yang tersisa.
seperti terbayang dan terdengar kembali bisikan Lenin
yang seakan baru pergi naik angkutan yang keluar dari terminal itu
dan memang terpaksa seorang pengembara harus pergi dari sebuah warung kopi
tiba-tiba ia kembali diperebutkan,
diseret oleh tiga orang kenek
bagai para elit yang masih berebut jabatan.
“Andai aku bisa membelah diri, aku akan membagi tubuhku menjadi tiga
dan akan kubiarkan saja mereka pergi ke mana saja…”, bisiknya.
dan mesin-mesin menderu lebih keras
menegaskan bahwa juga terjadi kenaikan bagi tarif angkutan
disesuaikan juga dengan harga beras.
—sebab, mulai siang itu, keringat semakin mengalir deras.
SATU KETOLOLAN LAGI
Puisi Nurani Soyomukti
satu ketololan lagi jaman memahati mimpi
pepohonan di pinggir-pinggir jalan
didatangkannya bala bantuan dari raungan anak-anak malam yang berkendara
digratiskannya lagi karcis pertandingan sepakbola
sebab hidup ini seharusnya gratis, katanya, yang sejam kemudian juga dikabarkan di siaran-siaran infotainmen, sinetron, dan pertandingan tunda
seperti gambar saja rambut anak-anak itu
dan angin mengecatnya
dan satu pleton lagi, bintang demonstrasi di langit dini hari
satu ketololan lagi jaman memahat mimpi
telah lupa ia kulelehkan mulutnya sesudah lama menunggu
sebelum kabut hadir di ingatannya
setelah itu aku sempat terbuai dengan bibir-bibir jalan
yang manis. Aku membawanya lari yang ternyata bayang-bayangku sendiri,
saat badai kencing di paritnya; dan pohon pohon itu berpaling ke arah gunung
ia pun lupa telah kucerai nafasnya saat aku tak sanggup menjadi penunggu musim seorang diri
langkahnya tenggelam tiap waktu
lalu kabut membaju, dan kini kukenakan dalam mimpiku.
(Trenggalek, Februari 2005).
PERGANTIAN TAHUN

Puisi Nurani Soyomukti
suasana malam,
terutama bintang yang berbaris di angkasa
menghempas kejemuan dan melahirkan spaneng
pikiran
lalu muncul kata-kata menari di antara bercak-bercak bayangan
abad-abad yang lalu
yang dengan cepat dapat kutinggalkan
dan dengan cepat pula aku tenggelam memasuki keremangan
angin masih dapat menerpa pucuk pohon rambutan
dan kabar dari seorang kekasih masih belum dapat kupindahkan
pada hal jika aku bercakap-cakap dengan bulan,
sepi dapat dengan sopan
permisi dari sini.
cepat atau lambat
pergantian tahun hendak memberi kesan
atau kesanggupan.
GLOBALISASI
01 Januari 2004,
Virus belum teridentifikasi melayang-layang di udara
Tak tertembus mata kita
Dan aku bosan membayangkan sajak tentang dukamu menangis, meraung-raung,
menjerit-jerit. Bait-bait curianmu pasti terdesak prasangka tanpa voltase keimanan
--karena itulah, kau takut menjadi pahlawan abad ini?
Dunia mengobral kata-kata murahan.
Etalase.
Dunia iklan.
Sajak-sajak artifisialmu yang baru kau baca di layar TV… aku yakin semua akan tertolak
dalam kesepianmu.
Virus-virus peradaban melayang-layang di udara
Juga tak terdeteksi oleh mesin komputermu
Cuma gosip murahan yang akan berkembang, yang kini masih kau simpan rapi dalam fail-fail
yang hanya bisa dibuka saat sisa air hujan sudah mengering. Dan kembang plastik dalam puisi,
hanyalah lambing sepi: Bukan lambing Cinta murni!
Cinta, dalam mimpi-mimpi di dunia ketiga, adalah uluran tanganmu yang membekaskan dendam.
Keakraban harus mampus dalam dikotomi. Jarak begitu jauh di antara jurang ideologi.
Cinta, dalam mimpi-mimpi dunia sajakku, adalah dongeng-dongeng seribu harapan pada
segenap episode dari pulau-pulau terpencil dalam aorta: darah akan terus mengalir membawa
sisa-sisa tragedi yang terjadi.
Kita tiba di abad dua puluh satu, bisikmu.
Dan malam akan datang dengan hawa rindu dendam, yang lari tunggang langgang,
mengombinasikan angan-angan orang di pinggir jalan dan rumah-rumah sebesar detik-detik
waktu, dengan atap-atap beterbangan.
Rindu dendam pun berhamburan.
Bulan yang merayap di atas pohon-pohon duren perkasa adalah kesunyian.
Bintang yang merayap di atas dua hati terbuai adalah kehampaan.
Jengkerik yang bernyanyi mengiringi perselingkuhan mendobrak angin malam kembali ke
kamar peradaban menunggu.
Semak-semak kecil aset pivotal bagi kain cinta yang semakin transparan.
Dan lihatlah mereka berdua yang berkaca pada kabut, tanpa busana dan pikiran.
Malam ini kita tak lagi berada di kegelapan, angin kan senantiasa menjenguk bulan yang
terpenjara, bisik seorang dari mereka. Lalu mereka berjalan bergandengan melanjutkan
menikmati malam.
Dan ada kekeringan nyata di antara gegap gempita orang-orang membangun rumah sewa di
sepanjang perjalanan kemelaratan. Di dalamnya, noda-noda yang tercipta dilengkapi dengan
obat perangsang, serta ada guci-guci arak berserakan.
Di jalan lain, mulut-mulut berkeliaran mencari kawan bermain, sambil berkata tentang alat
kelaminnya yang telah mengencingi bumi yang tak lagi murni.
Di sebuah meja rumah penginapan juga ada irisan hati yang tak layak disajikan di atas piring
dan mangkuk makan malam, kecuali dengan rayuan iklan kebohongan yang menjiplak
khotbah-khotbah setan yang juga kelaparan pada alamnya sendiri.
Dan alangkah suburnya pohon-pohon paha manusia-manusia besi yang terbuka, pada
etalase-etalase, yang menggantikan padi dan kebutuhan sehari-hari.
01 Januari 2005,
Mungkin aku terlalu pandai menyambut kedatangnmu, di abad dua satu yang katamu ada
bulan-bulan memerah jambu
Beberapa porsi menu pesta yang kau sajikan untuk menyambut sejarah,
yang kau bilang tak dapat dimakan usia,
kubanting tanpa kata-kata,
tanpa puisi jiwa.
Kau hendak menggunduli kepalaku
Tapi aku merasa bukanlah anak atau darah dagingmu
Aku hanya kau temukan di persimpangan jalan kekolotan. Nafasku berbau hutan, dan aku
hanyalah bocah yang akhirnya terbuang dari peradaban semak belukar.
Dan sepertinya tahun ini layar bioskop masih akan memproyeksikan tebalnya gincu merahmu.
Pada hal aku telah puas mengecupmu sebelum memulai adegan.
--sepertinya gedung bioskop juga akan terbakar.
Di dalam rumahmu, praduga kejang pada interlude.
Iklan TV mengiringi jarum jam, sempoyongan.
(Egak egok egak egok egak egok egak egok..
pengayuh becak jamanpun sempoyongan.
Lalu kau buang besi-besi tua itu ke samudra Indonesia,
sebelum memulai kisah selanjutnya!).
(Jakarta, 2004).
