Jumat, 23 November 2007

Dari Bedah Buku "REVOLUSI BOLIVARIAN" NURANI SOYOMUKTI di FISIPOL Universitas Jember, Kamis 15 November 2007


SELESAI SUDAH...


Selesai Sudah


Tidak ada yang bisa baca pikiranku,

meski kau kecup keningku malam itu, pada malam yang berjelaga

tubuhku telah menguap

kebarakan kamarkamar pada persetubuhan tahuntahun sebelumnya..


Atas nama CINTA: Cuma

Atas nama Martabat: Jika

Atas nama Laknat: Maka,


Aku ada di setiap sejarah

yang menolak puingpuing kemunafikan manusia

Aku telah merambat lewat kabel tilpun

mendekam di kulkas

untuk mendeteksi jenis peradaban ini...


Lalu kau seakan menawariku Cinta hari itu,

pada sebuah detik yang tegang karena kau hanya tahu bahwa hidup terdiri dari satu: melayani besi

memoles wajah dengan bedak agar, atas nama kerja peradaban, dirimu terbeli masa depan

yang diajarkan pada orangtuamu saat engaku kelas satu,


yang masih belajar mengeja namanama

apa dan siapa

bagian dari hidup yang mampu menuntaskan fase oralmu...


lalu aku mengajarimu namanama orang-orang besar

juga orang orang yang paling menakutkan...


Ada jarak antara kita,

kaupun mondarmandir keliling kota saat kuputus cintamu

mencaricari namanama lakilaki itu,

yang menuntaskan kegundahan malammalammu yang panjang...


Kini kau pergi karena sesuatu yang telah pasti,


atas nama Martabat: kaupun menjadi MANAJER BESI BESI!!!



Yogyakarta, 24 Nov 2oo7

Kamis, 06 September 2007

KEINDAHAN, AKU MENCARIMU!

Puisi Nurani Soyomukti



Keindahan,

Aku mencarimu

Piala yang kuperebutkan dengan cara bertarung

Melawan kesia-siaan.

Kuraih dirimu saat kuterjaga saat kubermimpi

Kudapati kau kugapai kau kukejar kau

Wahai nuansa hidup yang melingkar dalam repetisi keinginan

Kueja kau dalam bait-bait,

Kususun kau bersama perlawanan mengenyahkan kebuntuan

Kunamai kau kuldesak

Karena katakata sesak pada bait terakhir yang terdesak.

Aku ingin memujamu dengan kata yang panjang,

tapi kau hanya menari di angan.

Oh, kubertemu kau dalam mimpi

Kuadukan padamu kenapa kau hanya

sering menyeruak dalam kerinduan pada Kekasih tercinta.

Kuadukan padamu ucapan Tuan Tardji bahwa

aku harus menemuimu hanya pada katakata

dan bukan derita dan bukan dogma dan angkara.

Pada hal kau sering menjumpaiku pada rindu

pada angkara

pada rasa

pada makna

Yang cukup mengerti dari mana asalnya.

Aku hanya ingin mengadu, wahai Keindahan!

Engkau jangan kejamkejam dan diam saat pengertianmu

diperkosa dengan bahasabahasa yang kau sendiri tak paham

biarkan dirimu tidak hanya datang pada proses manipulasi jiwa

biarkan dirimu tidak hanya tiba pada saat repetisi nuansa

perpisahan dan perjumpaan tanpa tetes air mata.



Jakarta, September 2007

Jumat, 31 Agustus 2007

TERMINAL KESEKIAN

Puisi Nurani Soyomukti



kemana larinya bus-bus itu…

seorang gadis manis di dalamnya yang berkeringat bahkan tidak

bisa menjawab.

kemarin seorang wanita tua mencari anaknya yang diculik orang dari kota lain

tapi masih belum akan terungkap rahasia tentang siapa yang pertama kali memaksa

orang-orang harus banyak mengeluarkan keringat

darah

dan air mata

hanya seorang sopir tua yang paling dapat mengenali air mata es apukat

ditatapnya pula banyak kendaraan beroda empat yang berkeringat.

waktu itu tahun 1998,

awal Mei yang membuat orang dengan bebasnya membuat kesimpulan

tentang suara keroncongan dalam perutnya pada pukul 11 siang.

kini memang terpaksa seorang pengembara mampir kembali.

untuk mendengarkan kata-kata yang wajar untuk memperebutkan penumpang

Senin, bulan Maret 2005, mentari panas masih memantul di kening mereka,

keringat mengalir seperti solar yang harganya telah naik

“Segera akan terungkap siapa pelaku sejarah sebenarnya” bisik salah seseorang di sebuah

warung yang ingin menikmati nasi pecel ibu tua

yang harganya masih murah—dan itu adalah satu-satunya kesempatan hidup yang tersisa.

seperti terbayang dan terdengar kembali bisikan Lenin

yang seakan baru pergi naik angkutan yang keluar dari terminal itu lima menit sebelumnya.

dan memang terpaksa seorang pengembara harus pergi dari sebuah warung kopi

tiba-tiba ia kembali diperebutkan,

diseret oleh tiga orang kenek

bagai para elit yang masih berebut jabatan.

“Andai aku bisa membelah diri, aku akan membagi tubuhku menjadi tiga

dan akan kubiarkan saja mereka pergi ke mana saja…”, bisiknya.

dan mesin-mesin menderu lebih keras

menegaskan bahwa juga terjadi kenaikan bagi tarif angkutan

disesuaikan juga dengan harga beras.

—sebab, mulai siang itu, keringat semakin mengalir deras.


(Trenggalek, Maret 2005)

SATU KETOLOLAN LAGI

Puisi Nurani Soyomukti


satu ketololan lagi jaman memahati mimpi

pepohonan di pinggir-pinggir jalan

didatangkannya bala bantuan dari raungan anak-anak malam yang berkendara

digratiskannya lagi karcis pertandingan sepakbola

sebab hidup ini seharusnya gratis, katanya, yang sejam kemudian juga dikabarkan di siaran-siaran infotainmen, sinetron, dan pertandingan tunda

seperti gambar saja rambut anak-anak itu

dan angin mengecatnya

dan satu pleton lagi, bintang demonstrasi di langit dini hari

satu ketololan lagi jaman memahat mimpi

telah lupa ia kulelehkan mulutnya sesudah lama menunggu

sebelum kabut hadir di ingatannya

setelah itu aku sempat terbuai dengan bibir-bibir jalan

yang manis. Aku membawanya lari yang ternyata bayang-bayangku sendiri,

saat badai kencing di paritnya; dan pohon pohon itu berpaling ke arah gunung sana

ia pun lupa telah kucerai nafasnya saat aku tak sanggup menjadi penunggu musim seorang diri

langkahnya tenggelam tiap waktu

lalu kabut membaju, dan kini kukenakan dalam mimpiku.


(Trenggalek, Februari 2005).

PERGANTIAN TAHUN


Puisi Nurani Soyomukti


suasana malam,

terutama bintang yang berbaris di angkasa

menghempas kejemuan dan melahirkan spaneng

pikiran

lalu muncul kata-kata menari di antara bercak-bercak bayangan

abad-abad yang lalu

yang dengan cepat dapat kutinggalkan

dan dengan cepat pula aku tenggelam memasuki keremangan

angin masih dapat menerpa pucuk pohon rambutan

dan kabar dari seorang kekasih masih belum dapat kupindahkan

pada hal jika aku bercakap-cakap dengan bulan,

sepi dapat dengan sopan

permisi dari sini.

cepat atau lambat

pergantian tahun hendak memberi kesan

atau kesanggupan.


(Sempu-Margomulyo, 1 Januari 2005)

GLOBALISASI

Puisi Nurani Soyomukti


01 Januari 2004,

Virus belum teridentifikasi melayang-layang di udara

Tak tertembus mata kita

Dan aku bosan membayangkan sajak tentang dukamu menangis, meraung-raung,

menjerit-jerit. Bait-bait curianmu pasti terdesak prasangka tanpa voltase keimanan

--karena itulah, kau takut menjadi pahlawan abad ini?

Dunia mengobral kata-kata murahan.

Etalase.

Dunia iklan.

Sajak-sajak artifisialmu yang baru kau baca di layar TV… aku yakin semua akan tertolak

dalam kesepianmu.

Virus-virus peradaban melayang-layang di udara

Juga tak terdeteksi oleh mesin komputermu

Cuma gosip murahan yang akan berkembang, yang kini masih kau simpan rapi dalam fail-fail

yang hanya bisa dibuka saat sisa air hujan sudah mengering. Dan kembang plastik dalam puisi,

hanyalah lambing sepi: Bukan lambing Cinta murni!

Cinta, dalam mimpi-mimpi di dunia ketiga, adalah uluran tanganmu yang membekaskan dendam.

Keakraban harus mampus dalam dikotomi. Jarak begitu jauh di antara jurang ideologi.

Cinta, dalam mimpi-mimpi dunia sajakku, adalah dongeng-dongeng seribu harapan pada

segenap episode dari pulau-pulau terpencil dalam aorta: darah akan terus mengalir membawa

sisa-sisa tragedi yang terjadi.

Kita tiba di abad dua puluh satu, bisikmu.

Dan malam akan datang dengan hawa rindu dendam, yang lari tunggang langgang,

mengombinasikan angan-angan orang di pinggir jalan dan rumah-rumah sebesar detik-detik

waktu, dengan atap-atap beterbangan.

Rindu dendam pun berhamburan.

Bulan yang merayap di atas pohon-pohon duren perkasa adalah kesunyian.

Bintang yang merayap di atas dua hati terbuai adalah kehampaan.

Jengkerik yang bernyanyi mengiringi perselingkuhan mendobrak angin malam kembali ke

kamar peradaban menunggu.

Semak-semak kecil aset pivotal bagi kain cinta yang semakin transparan.

Dan lihatlah mereka berdua yang berkaca pada kabut, tanpa busana dan pikiran.

Malam ini kita tak lagi berada di kegelapan, angin kan senantiasa menjenguk bulan yang

terpenjara, bisik seorang dari mereka. Lalu mereka berjalan bergandengan melanjutkan

menikmati malam.

Dan ada kekeringan nyata di antara gegap gempita orang-orang membangun rumah sewa di

sepanjang perjalanan kemelaratan. Di dalamnya, noda-noda yang tercipta dilengkapi dengan

obat perangsang, serta ada guci-guci arak berserakan.

Di jalan lain, mulut-mulut berkeliaran mencari kawan bermain, sambil berkata tentang alat

kelaminnya yang telah mengencingi bumi yang tak lagi murni.

Di sebuah meja rumah penginapan juga ada irisan hati yang tak layak disajikan di atas piring

dan mangkuk makan malam, kecuali dengan rayuan iklan kebohongan yang menjiplak

khotbah-khotbah setan yang juga kelaparan pada alamnya sendiri.

Dan alangkah suburnya pohon-pohon paha manusia-manusia besi yang terbuka, pada

etalase-etalase, yang menggantikan padi dan kebutuhan sehari-hari.

01 Januari 2005,

Mungkin aku terlalu pandai menyambut kedatangnmu, di abad dua satu yang katamu ada

bulan-bulan memerah jambu

Beberapa porsi menu pesta yang kau sajikan untuk menyambut sejarah,

yang kau bilang tak dapat dimakan usia,

kubanting tanpa kata-kata,

tanpa puisi jiwa.

Kau hendak menggunduli kepalaku

Tapi aku merasa bukanlah anak atau darah dagingmu

Aku hanya kau temukan di persimpangan jalan kekolotan. Nafasku berbau hutan, dan aku

hanyalah bocah yang akhirnya terbuang dari peradaban semak belukar.

Dan sepertinya tahun ini layar bioskop masih akan memproyeksikan tebalnya gincu merahmu.

Pada hal aku telah puas mengecupmu sebelum memulai adegan.

--sepertinya gedung bioskop juga akan terbakar.

Di dalam rumahmu, praduga kejang pada interlude.

Iklan TV mengiringi jarum jam, sempoyongan.

(Egak egok egak egok egak egok egak egok..

pengayuh becak jamanpun sempoyongan.

Lalu kau buang besi-besi tua itu ke samudra Indonesia,

sebelum memulai kisah selanjutnya!).

(Jakarta, 2004).